ANTROPOLOGI KOENTJARANINGRAT

Posted: November 28, 2010 in Wawasan kita

POSITIVISME

Berkembang di dunia barat pada abad18. Namun dalam perkembangannya positivism memiliki aliran – aliran di Negara – Negara yang berbeda, sehingga mencirikan positivism agak sulit. Kolanowski memandang positivisme sebagai sekumpulan aturan dan criteria penilaiaan tentang pengetahuan manusia. Berikut 4 kriteria kolanowski :

1. Rule of phenomenalism
Aturan ini bahwa berpositivisme pengalaman adalah penting dari dasar pengetahuan manusia. Jadi, positivime tidak memberikan tempat pada metafisika. Berarti positivisme mengakui eksistensi tapi menolak esensi. Jadi, positivime menolak penjelasan yang menurut definisinya tidak dapat digapai oleh ilmu pengetahuan Indonesia.

2. Rule of nominalism
Aturan ini menidakbolehkan beranggapan bahwa setiap pemahaman yang dirumuskan dalam istilah dapat mengacu selain pada fakta individual. Jadi, pengetahuan yang abstrak. Tidak lain adalah sebuah metode untuk meringkas pengalaman.

3. Rule that refuses call value judgement and normative statement knowledge.
Aturan ini mengatakan bahwa kita wajib menolak pandangan yang mengatakan bahwa nilai merupakan cirri dari dunia yang ada di sekitar kita. Karena nilai tidak dapat diperoleh dengan cara sebagaimana halnya “pengetahuan” yang kita miliki.

4. Belief in essentials unity of scientific method
Aturan ini adalah pandangan yang mengakatan bahwa tidak ada perbedaan yang penting dan mendasar antara metode pengetahuan alam dengan pengetahuan social budaya.

Kaum positivisme berpandangan bahwa ilmu pengetahuan merupakan suatu upaya untuk memperoleh pengetahuan yang “predictive” dan “explainatory” mengenai dunia di luar.

ANTROPOLOGI KOENTJARANINGRAT

METODE PENGUMPULAN FAKTA

Antropologi menurut professor koentjaraningrat dapat dicapai dengan tiga cara: (1) pengumpulan fakta ; (2) penentuan sifat generalisasi dan system ; (3) verifikasi. Namun demikian peneliatian di perpustakaan juga tak kalah penting. Dalam penelitian lapangan Professor Koentjaranigrat berpendapat bahwa ahli antropologi sebaiknya menggabungkan dua macam metode penelitian yang seringkali dipertentangkan, yakni: metode kualitatif dan kuantitatif, agar generalisasi yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi Profesor Koentjaraningrat berpendapat metode kuantitatif lebih di anjurkan. Namun harus ada suatu kerja sama diantara keduanya. Metode kualitatif merupakan persiapan atau penambahan bagi metode kuantitatif.


TAKSONOMI BUDAYA

Tahap selajutnya saat fakta kebudayaan masyarakat telah terkumpul maka harus menentukan “sifat umum dan system”. Ini adalah sebuah proses yang biasa disebut geralisasi dengan menggunakan dua metode yakni: metode perbandingan dan klasifikasi atau taksonomi.

Taksonomi atau tipologi adalah upaya untuk menetukan jenis dan karakter dari suatu kebudayaan dan kemudian memberinya nama tertentu. Hal ini dilakukan untuk mengetahui persamaan serta perbedaan antara berbagai kebudayaan khususnya dalam studi perbandingan. Dalam melakukan taksonomi ini beberapa kebuadayaan akan dicirikan dan dikelompokan dengan cirri tertentu. Profesor Koentjaraningrat mengklasifikasikan kebudayaan atas dasar lokasi tempat tinggal, mata pencaharian, dan kontak budaya. Dengan kata lain beliau menganggap penting adaptasi terhadap suatu lingkungan alam yang ternyata membuat suatu masyarakat memiliki kebudayaan yang berbeda.

System klasifikasi semacam ini sangat diperlukan agar data mentah yang banyak dan bervariasi dapat dikuasai dengan cara tertantu dan teratur. Namun harus selalu diingat bahwa system dan keteratura trersebut merupakan hasil dari pikiran kita dan tidak inherent terdapat dalam data tersebut.

INDUKTIF DAN DEDUKTIF

Berkenaan dengan menentukan ciri dan system, Profesor Koentjaranigrat menganjurkan sebuah proses pemikiran yang induktif. Dalam proses ini ahli antropologi harus menklasifikasikan fakta berdasarkan ciri dan system dan kemudian melakuakn generalisasi. Jadi, proses berpikir induktif adalah proses yang beliau anggap penting dalam analisis yang harus didukung pula oleh analisis kuantitatif tadi.

Dalam kehidupan sehari – hari proses penalaran induktif ini dipakai setiap kali seseorang menilai suatu situasi bedasarkan pengalaman yang diperoleh dari situasi yang kurang lebih sama sebelumnya. Proses berpikir secara induktif dan deduktif adalah proses yang bersifat saling mengisi sangat disadari oleh beliau. Walaupun sebenarnya proses berpikir yang deduktif juga tidak pernah beliau lupakan.
PERBANDINGAN, GENERALISASI, DAN VERIFIKASI

Dalam antrop – koen, studi perbandingan terbagi dua macam, yakni:
a. Ditujukan untuk menghasilkan suatu system klasifikasi tertentu,
Bertujuan mencari kesamaan dan perbedaan yang pada dasarnya merupakan langkah paling awal menuju system klasifikasi atau taksonomi budaya.

b. Di tujukan untuk menguji kebenaran dari pengertian yang diperoleh tentang masyarakat dan kebudayaan.
Tahap dimana pemahaman yang diperoleh akan diuji dengan studi perbandingan. Profesor Koentjaraningrat memang menganjurkan melakukan verifikasi melalui studi perbandingan bila inginmencapai generalisasi yang berfondasi empiris.

Proses verifikasi sendiri sebenarnya ada dua macam menurut lastrucci, yakni:

1. Prediksi atau perkiraan yang tidak kebetukan
2. Berdasarkan consensus atau persetujuan para ilmuwan.

Pengertian yang pertama sepertinya lenih diikuti oleh Profesor Koentjaraningrat. Pada verifikasi yang pertama ialah diterimanya hipotesis yang dikemukakan sebagai sebuah”teori” atau “hukum”. Berarti Bapak Profesor Koentjaraningrat menganut epistemology stochastic, yakni,epistemology yang berhubungan dengan probabilitas.

Profesor Koentjaraningrat menyatakan bahwa verifikasi dari sekian banyak gejala social budaya, terdapat gejala yang dapat dijelaskan melalui hukum atau dalil. Dalil atau hukum ini dapat diketahui dengan cara melakukan penelitian serta menguji generalisasi. Dalam hal ini antropologi yang beliau inginkan mengambil ilmu eksak yang dapat merumuskan hukum tentang gejala alam. Hal ini mengharuskan antropologi agar melakukan studi pebandingan yang sangat luas.

Dua konsep penting yang menunjukan epistemology studi perbandingan ialah konsep “empiricial probabilities” dan “lawfull processes”. Studi perbandingan termasuk dalam penjelasan dengan model induktif – statistis, karena metode perbandingan merupakan metode generalisasi secara induktif yang mengandalkan perhitungan statistic. Metode ini digunakan untuk memperoleh pengetahuan yang prediktif..

Antropologi Koentjaranignrat pada dasarnya bersifat komparatif. Delain bermakna teoritis dan akademis, studi perbandingan di Indonesia dalam Antrop – Koen punya makna strategis dan praktis.namun studi perbandingan skala besar yang diinginkan beliau agak sulit dilakukan di Indonesia. Lau beliau melakukan studi “perbandingan tekendali” yang skalanya lebih kecil namun dengan hasil yang tidak kalah pula.

FUNGSI DAN KEBUDAYAAN

Antrop – Koen adalah antropologi yang fungsionalitas. Pengertian yang beliau anut dari uraiannya mengenai kata fungsi yang dikemukakan oleh spiro. Ada tiga definisi fungsi yang disampaikan spiro dan meurut Profesor Koentjaraningrat. Dua diantaranya diikuti oleh para ahli antropologi, yakni: (1) sebagai konsep yang menerangkan hubungan konvariabel antar suatu hal yang lain yang saling mempengaruhi dan (2) fungsi yang menerangkan hubungan yang terjadi antara suatu hal dengan yang lain dalam system yang bulat.

Pada definisi kedua contohnya “tekandung kesadaran para sarjana antropologi tentang integrasi kebudayaan”. Beliau juga mengikuti pandanganbahwa kebudayaan merupakan suatu system dengan unsure yang terintegrasi satu sama lain. Namun hubungan antar unsur dalam system ini menurut beliau akan lebih dipahami jika menggunakan funsi yang pertama, karena pengertian fungsi yang pertama lebih bersifat lintas budaya. Jadi, pandangan beliau menenkankan pentingnya studi perbandingan antar kebudayaan juga mengandung model tentang kebudayaan sebagai suatu sitiem yang fungsional; yang memiliki unsur yang berkaitan, terintegrasi dan suatu satuan yang berfungsi hidup.

Anggapan – anggapan dasar yang ada dalam Antrop – Koen adalah :

a. Kebudayaan adalah sesuatu yang terdiri dari berbagai unsuryang terkait secara fungsional satu sama lain, sehingga suatu kebudayaanuga merupakan sebuah system yang unsurnya relative terintegrasi satu sama lain.

b. Gejala social – budaya merupakan bagian dari tatanan alami sehingga, fenomena alam tunduk pada hokum tertentu, maka tentunya ada fenomena social – budaya yang tunduk pada hokum semacam itu.

c. Ilmu social – budaya seyogyanya tidak berhenti menjadi ilmu yang deskriptif, tetapi juga menjadi sebuah disiplin yang dapat merumuskan generalisasi yang tepat mengenai gejala social – budaya dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

d. Prosedur penelitian yang telah berkembang dalam ilmu alam,terbukti telah mampu merumuskan hukum yang ada. Melalui strategi ini diharapkan akan dapat ditemukan pula hukum yang bekerja dibalik gejala social – budaya.

e. Antropologi ilmu yang memprlajari kebuadyaan harus dapat menghasilkan rumusan yang mendekati hukum atau dalil mengenai relasi yang mantap antar berbagai unsur kebuadayaan atau gejala social – budaya datu dengan yang lain.

Antrop – Koen memang antropologi dengan epistemology yang positivistis atau paling tidak Profesor Koentjaranignrat banyak mengikuti pandangan kaum positivis. Cari penting dari epistemology ini adalah (a) gejala social – budaya merupakan bagian dari gejala alami, (b) ilmu social – budaya juga harus dapat merumuskan hukum atau generalisasiyang mirip dalil mengenai gejala social – budaya, (c) berbagai prosedur serta metode penelitian dan analisis yang ada dan telah berkembang dalam ilmu alam dapat dan perlu diterapkan dalam ilmu social – budaya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s